Sabtu, 14 Januari 2017

arti hujan bagi manusia










"hujan itu rahmat yang geubri le allah keu geutanyo",kata-kata nenek yang selalu mengingatkanku akan rahma allah yang maha kuasa.''dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat nya dan dialah yang maha pelindung dan maha terpuji(QS;asy-syura:28).titik-titik air bejatuhandi udara.sering membuat genangankadang,membawa kenangan memang sangat besar kenikmatan dari hujan itu,rasa nya aku ingin hujan itu salalu ad dan menyanyikan suara rintihan yang yang gemersik indah.
god luck
Read More

Selasa, 10 Januari 2017

transition to the feelings



ketika sesuatu yang datang kepada kita,apa yang kau lakukan?
ya,mukin bisa saja kau menerima nya bisa saja kau menolak nya atau bisa jadi kau kau menangapi nya.tapi,bagaimana apabila yang datang kepada mu itu adalah perasaan ??mungkin agak susah untuk menjalaskan ,tapi apa yang ku tanyakan sama seperti yang ku rasakan.terlalu banyak kisah kecil maupun besar yang terurai dalam hidup kita,dan semua itu bisa saja kita lupakan dan bisa saja kita ingat.
cinta memang begitu buta sangking kebutaan nya dapat membutakan kita dengan ALLAH,ya kan??.
tapi bagaimana apabila cinta yang datang ke kita dengan niat kepada allah.ya,urain yang ku tulis sama dengan apa yang ku rasakan,CINTA yang sangat buta.kisah singkat damun drastis yang berlalu dengan sakit,sakit yang sangat pedih.hehhe memang sedikit alay tapi,inilah hidup.hehehhe.
so,kepedisan cinta yang hilang namun kasar,tak usah di pikirkan lagi,ya jadi memori cinta yang  mengkabur dan menghilang.


Read More

tauladan sufi RUMI "JALALUDDIN RUMI"








Tahun 2007 Ditetapkan Sebagai Tahun Maulana Rumi

Seremoni untuk mengenang 800 tahun Maulana Jalaluddin Balkhi Rumi dihelat di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Acara yang berlangsung itu digagas Misi Tetap Afghanistan, Iran, dan Turki, di lembaga tersebut. 

Peringatan tersebut dirancang berkaitan dengan ketetapan Unesco yang menjadikan tahun ini sebagai tahun Maulana Rumi. Sekjen PBB Ban Ki-moon ikut hadir dalam perayaan tersebut. Acara ini hanya penggalan dari serangkaian kegiatan yang dipersiapkan untuk mengenang sufi dan penyair besar asal Persia tersebut. Dalam perayaan tersebut Ban Ki-moon menyampaikan pidato sambutan yang isinya merupakan ungkapan kekagumannya terhadap Rumi. Dia mengungkapkan sangat senang bisa bergabung dengan para hadirin untuk peringatan yang sangat khusus ini. 


Tak cuma itu, Ban Ki-moon juga menganggap peringatan tersebut merupakan kesempatan luar biasa untuk meneguhkan pengabdian pada filsafat kemanusiaan yang digagas Rumi. Memang, kuat sekali pesan-pesan yang mengedepankan prinsip-prinsip toleransi, pengertian, serta empati dalam ajaran Maulana Rumi. 

Sufi kelahiran Balkh, Afghanistan pada 604 H atau 30 September 1207 itu memang dikenal sebagai salah satu humanis terbesar sepanjang masa. Selain toleransi, dia selalu menekankan pentingnya saling pengertian dan akses ke ilmu pengetahuan melalui cinta. Rumi juga dikenal sebagai sufi yang mendekati Tuhan lewat cintanya, bukan lewat kerja fisik. Lewat cinta pula, Rumi meyakini setiap manusia akan mampu mengenali dunia dengan lebih sempurna. 

Dibanding karya penyair yang lain, puisi-puisi Rumi sering sekali mengungkapkan kisah-kisah yang mengandung banyak makna simbolik. Berbagai puisi itu juga memberi gambaran bahwa posisi Tuhan bagi Rumi tidaklah bisa ditandingi oleh apa pun. Sedangkan kehidupan para nabi, kerap dijadikan kisah yang memberi cermin tentang hidup menawan yang memberi banyak keteladanan. 

Maulana Rumi juga senantiasa menekankan agar setiap orang terus memikirkan orang di sekitarnya, dan mencintai mereka sebagai manusia ciptaan Allah. Dengan melakukan ini, semua manusia menjadi bisa merasakan akan sifat ketergantungan satu sama lain. 

Jika dikaitkan dengan kondisi yang kini terjadi, ajaran-ajaran Rumi menjadi terasa sangat penting untuk dihadirkan kembali. Dalam kondisi nyata memang puisi-puisi Rumi itu abadi. Tapi, praktik kehidupan sehari-hari tidak mampu memaknai pesan toleransi dan kemanusiaan Rumi itu dengan baik. 

Peristiwa yang terjadi pada beberapa waktu terakhir memberi gambaran betapa jurang pemisah semakin menganga di antara komunitas-komunitas dan bangsa-bangsa. Kesenjangan itu telah membangkitkan kekhawatiran yang meluas, runtuhnya rasa toleransi, dan memakan banyak korban. Dalam hidupnya, Rumi melahirkan karya besar berjudul Masnawi. 

Buku yang ditulisnya selama 15 tahun itu berisi 20.700 bait syair yang penuh makna. Karya tulis lain yang ditinggalkan Rumi adalahRuba'iyyat (sajak empat baris dalam jumlah 1.600 bait), Maktubat, serta Fiihi Maa fiihi. Semua itu mengandung nasihat penting perdamaian yang sebenarnya sangat relevan jika diterapkan untuk menekan kesenjangan yang kini terjadi. 

Selain di PBB, peringatan 800 tahun Maulana Rumi ini juga akan digelar di kantor pusat Unesco di Paris. Pelukis Iran, Hossein Mahjubi, mengungkapkan acara peringatan yang digelar oleh Tehran's Museum of Contemporary Art itu akan berlangsung Oktober mendatang. 

''Kami akan memamerkan karya kami yang diinspirasi oleh puisi-puisi Rumi dalam acara tersebut,'' ujar dia. Selain di Paris, lukisan tersebut juga akan dipamerkan di Seyhoun Gallery di Los Angeles pada 5 Januari 2008. Begitu panjang rangkaian acara yang disiapkan untuk merenungi kembali ajaran-ajaran Rumi ini. 

Sedangkan Unesco sendiri akan merayakan peringatan tersebut pada 6 September 2007. Menurut website lembaga tersebut, peringatan 800 tahun Maulana Rumi itu akan diresmikan oleh Dirjen Unesco, Koichiro Matsuura, dan tiga orang menteri yang mewakili Afghanistan, Iran, dan Turki. Dalam peringatan tersebut akan berlangsung seminar penting untuk membaca kembali jejak-jejak ajaran Rumi. 


Setelah memberi pelajaran hidup yang sangat bermakna, Rumi berpulang dalam usia 68 tahun. Maulana Rumi wafat pada 5 Jumadil Akhir 672 H. Kepergian Rumi untuk selamanya ini mengundang kesedihan banyak orang. Banyak sekali orang berkerumun untuk mengantarkannya ke peristirahatan terakhir. Mereka sangat kehilangan orang yang selama ini sangat dihormati. Kendati Rumi telah berpulang, ajaran-ajaran tasawufnya yang sarat dengan pesan cinta dan perdamaian akan tetap hidup




#based on the story of my grandmother



Read More

karena ukuran kita tidak sama







"seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya

    memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti

    memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan
    kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi" 
Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.



Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,



“Masya Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!”



Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.




”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya,


“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!”


Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.




”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!” ’Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya bersiponggang menggema memenuhi lembah dan bukit di sekalian padang.


“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”.



”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman! Masuklah!”



“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“



“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!”



Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Utsman pun masuk dan menutup pintu dangaunya. Dia bersandar dibaliknya & bergumam,



”Demi Allah, benarlah Dia & RasulNya. Engkau memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”



‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki.




‘Umar, jagoan yang biasa bergulat di Ukazh, tumbuh di tengah bani Makhzum nan keras & bani Adi nan jantan, kini memimpin kaum mukminin. Sifat-sifat itu –keras, jantan, tegas, tanggungjawab & ringan tangan turun gelanggang – dibawa ‘Umar, menjadi ciri khas kepemimpinannya.


‘Utsman, lelaki pemalu, anak tersayang kabilahnya, datang dari keluarga bani ‘Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman sentausa. ’Umar tahu itu. Maka tak dimintanya ‘Utsman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan diri. Tidak. Itu bukan kebiasaan ‘Utsman. Rasa malulah yang menjadi akhlaq cantiknya. Kehalusan budi perhiasannya. Kedermawanan yang jadi jiwanya. Andai ‘Utsman jadi menyuruh sahayanya mengejar unta zakat itu; sang budak pasti dibebaskan karena Allah & dibekalinya bertimbun dinar.



Itulah ‘Umar. Dan inilah ‘Utsman. Mereka berbeda.



Bagaimanapun, Anas ibn Malik bersaksi bahwa ‘Utsman berusaha keras meneladani sebagian perilaku mulia ‘Umar sejauh jangkauan dirinya. Hidup sederhana ketika menjabat sebagai Khalifah misalnya.



“Suatu hari aku melihat ‘Utsman berkhutbah di mimbar Nabi ShallaLlaahu ‘Alaihi wa Sallam di Masjid Nabawi,” kata Anas . “Aku menghitung tambalan di surban dan jubah ‘Utsman”, lanjut Anas, “Dan kutemukan tak kurang dari tiga puluh dua jahitan.”



Dalam Dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh lain lagi.



Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.



Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang diberi amanah memimpin umat. Tetapi jangan membebani dengan cara membandingkan dia terus-menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz.



Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat pada saudara yang tengah diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf.



Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat saudara yang dianugerahi ilmu. Tapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai bahawa Ibrani dalam empat belas hari.



Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain pada masa yang berbeda. ‘Ali ibn Abi Thalib yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban yang telak dan lucu.



“Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan ‘Umar” kata lelaki kepada ‘Ali, “Keadaannya begitu tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaanya begini kacau dan rusak?”



“Sebab,” kata ‘Ali sambil tersenyum, “Pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar, rakyatnya seperti aku.

Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”


Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan menuntut orang lain berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, “Utsman atau ‘Ali.



Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’d ibn Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar, fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.



Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.



Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.



Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin, perbedaan dalam hal-hal bukan asasi

tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang tepat adalah “shawab” dan “khatha”.


Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi antara satu dengan yang lain.



Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita pahami, itu tidak seharusnya membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya.



Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan hal ini dengan indah. “Pendapatku ini benar,” ujar beliau,”Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, namun bisa jadi mengandung kebenaran.”



#by:nafis darululum banda aceh3D
#ma'an_najahblogger
#the source of the article my father
Read More

Sabtu, 07 Januari 2017

danau rana,wisata maluku yang tersembunyi









jakarta pulau  buru di maluku indentik dengan tempat pembuangan PKI.ada yang menyangka ada destinasi destinasi cantik disana brnama danau rana .

rana merupakan danau yang sangat istimewa di maluku. hal ini di karenakan rana dalah danau paling besar di maluku .

BERBEDA DENGAN DANAU LAINYA di indonesia ,rana berada pada ketinggian 700 mdpl.seperti di puncak,wow! menakjubkan bukan. "ujar wakil bubati kabupaten buru,ir soerdana soedrajat saat acara jumpa pers festifal BUFOLO 2016 di balai soesilo soedirman ,gedung sapta pesona,jl merdeka barat jakarta pusat,rabu(28/9/2016)

suasana danau yang tenang dan berkabut menambah keeksotisan rana.tempat nya yang di kelilingi oleh pemukiman adat istiadat

untuksampai ke sana traveler bisa terbang ke maluku dan bisa lanjut naik pesawat ke buru.lokasi danau rana ada di kecamatan fena leisela .darisitu kita masih harus menempuh jalan sepanajng 3 jam untuka sampai ke sana .


nafis dayah mdrn darululum bna
Read More

Kamis, 22 Desember 2016

nilai sebuah baju bekas









"Sama sama manusia, entah hitam putih tinggi pendek, namun yang membedakan nilainya adalah kesungguhannya dalam berusaha."--


Dia berkulit hitam, lahir di daerah kumuh Brooklyn, New York, ia melewati kehidupannya dlm lingkungan miskin dan penuh diskriminasi.
Suatu hari ayahnya memberikan sehelai pakaian bekas kepadanya,
“Menurutmu, brp nilai pakaian ini?”

Ia menjawab, “Mungkin USD 1.”
“Bisakah dijual seharga USD 2?
Jika berhasil, berarti engkau telah membantu ayah dan ibumu."

“Saya akan mencobanya.”
Lalu dia membawa pakaian itu ke stasiun kereta bawah tanah dan menjual selama lebih dari enam jam, akhirnya ia berhasil menjual USD 2 dan berlari pulang.
Kemudian, ayahnya kembali menyerahkan sepotong pakaian bekas kpdnya,
“Coba engkau menjual seharga USD 20?”

"Bagaimana mungkin?
Pakaian ini paling hanya USD 2."

Ayahnya berkata, “Mengapa engkau tdk mencobanya dulu?”
Akhirnya, ia mendapatkan ide. Ia meminta bantuan sepupunya untuk menggambarkan seekor Donald Duck yang lucu dan seekor Mickey Mouse yang nakal pada pakaian itu. Ia lalu menjualnya di sekolah anak orang kaya, dan laku USD 25.
Ayahnya kembali memberikan selembar pakaian bekas kepadanya,
“Apakah engkau mampu menjualnya dgn harga USD 200?"

Kali ini ia menerima tanpa keraguan sedikit pun, kebetulan aktris film populer “Charlie Angels”, Farrah Fawcett berada di New York, sehabis konferensi pers, ia pun menerobos penjagaan pihak keamanan dan meminta Farrah Fawcett membubuhkan tanda tangan di pakaian bekasnya. Kemudian terjual USD 1500.
Malamnya, ayahnya bertanya, 
“Anakku, dari pengalaman menjual tiga helai pakaian ini, apa yang engkau pahami?”

Ia menjawab “Selama kita mau berpikir pasti ada caranya.”
Ayahnya menggelengkan kepala,
“Engkau tdk salah!
Tapi bukan itu maksud ayah, ayah hanya ingin memberitahukanmu bahwa sehelai pakaian bekas yang bernilai satu dolar juga bisa ditingkatkan nilainya.
Apalagi kita sebagai manusia?
Mungkin kita berkulit gelap dan miskin, tapi apa bedanya?”

Sejak itu, ia belajar dengan lebih giat dan menjalani latihan lebih keras, dua puluh tahun kemudian, namanya terkenal di seluruh dunia.

so apa yang kita dapat dari cerita singkat di atas,banyak pelajaran beharga yang dapat kita ambil di atas.

THAKS,FOR YOU ALL


#from,nafisatdarul ulm banda aceh
#from my document

Read More

Selasa, 20 Desember 2016

membiasakan perilaku terpuji



Sahabat dunia islam, sebagai orang muslim kita harus membiasakan berperilaku terpuji, diantaranya yakni bagaimana kita harus selalu berhusnudzan terhadap siapapun serta bertaubat kepada Allah SWT.
Mengenai perilaku terpuji atau akhlak terpuji menurut  pendekatan etimologi, akhlak berasal dari bahasa Arab jama’ dari bentuk mufradnnya “khuluqun” yang artinya budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat, yang mana akhlak atau perilaku yang baik disini di contohkan seperti husnudzan, bertuturkata dan bertingkah laku yang baik, ada pula yang mengatakan bahwa akhlak merupakan sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang yang akhirnya berbuah suatu perbuatan.
Perilaku terpuji atau akhlak terpuji adalah segala tingkah laku yang terpuji, dapat disebut juga dengan akhlak yang utama, yakni akhlak yang baik dilahirkan oleh sifat-sifat yang baik yang tertanam dalam jiwa seseorang tersebut. Sangat berbeda dengan akhlak yang buruk atau perilaku yang buruk yakni yang tercermin dari tutur kata, tingkah laku, dan sikap yang tidak baik.
Ada beberpa contoh Penerapan Perilaku Terpuji dalam kehidupan sehari – hari yaitu :
Pertama, Selalu bertutur kata yang santun dan menghindari perkataan yang menyakitkan orang lain
Dalam islam menjaga lisan amatlah penting seperti dalam hadis berikut:
Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian,hendaklah iya bertutur kata yang baik atau lebih baik diam” (HR. Bhukhari dan Muslim)

Kedua, Selalu tersenyum untuk semua orang, Karena tersenyum termasuk sedekah dan dapat melembutkan hati seseorang
Rasulullah SAW bersabda, “Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah, beramar makruf dan nahi mungkar yang kalian lakukan untuk saudaranya juga sedekah, dan kalian menunjukkan jalan bagi seseorang yang tersesat juga sedekah.” (HR Tirmizi dan Abu Dzar).
Ketiga, Tidak suka membuka aib orang lain dan selalu berusaha mendamaikan persengketaan
Membicaran aib orang lain atau yang di sebut Ghibah.
zaman sekarang bukan dianggap salah bahkan sudah menjadi tradisi dalam masyarakat kita. Padahal di balik perbuatan itu ada hukuman yang setimpal.
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang
(Surah al-Hujurat(49):12).

Keempat, Mampu menghindari diri dari hasutan dan usaha untuk mengadu domba dan bermusuhan
Kelima, Bersikap ikhlas bila membantu orang yang membutuhkan
Keenam, Tidak membeda-bedakan pergaulan atas dasar status sosial atau kekayaan, akan tetapi bergaul dengan orang yang saleh dan bertakwa serta memiliki ilmu pengetahuan yang luas.

Ketujuh, Tidak suka berburuk sangka atau menuduh orang lain karena akan menimbulkan perasaan sakit hati. Akan tetapi apabila terjadi sebaliknya terhadap diri kita, maka maafkanlah dan do’akan agar mereka menyadari kesalahannya.
by:nafis darul ulum3d,@aneukrantotimue.blogspot.co.id

Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

Author Info

Facebook

Ads 468x60px

Featured Posts

Search This Blog

Like This Theme

Recent Posts

Video Of Day

Sample text

Text Widget

About Us

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Followers

Social Icons

Subscribe

Pinterest Gallery

Recent Comments

featured Slider

Pages

About

Popular Posts